Kembali ke Blog

Recap: WFC Bareng di Royal Lounge

10 April 20264 menitOleh Putri

Recap: WFC Bareng di Royal Lounge
Recap

Kerja remote itu kadang estetik, kadang juga tragik. Estetik kalau upload story laptop, kopi, dan playlist lo-fi. Tragik kalau dari pagi sampai sore yang diajak ngobrol cuma notifikasi, revisi, dan suara sendiri bilang, "sebentar lagi selesai," padahal belum.

Untungnya, Jumat ini suasana itu pecah. Makassar Remote Club (Marclub) kembali menggelar agenda Work From Cafe (WFC) bareng di Royal Lounge, Ruko Alfa, Jl. Pengayoman No. 18 A, Makassar. Total ada 19 pejuang digital yang datang membawa laptop, charger, deadline, dan sisa-sisa semangat yang untungnya masih bisa diselamatkan.

Royal Lounge Resmi Naik Pangkat Jadi Kantor Dadakan

Sekitar pukul 13.00 WITA, Royal Lounge mulai berubah fungsi. Dari tempat nongkrong santai menjadi markas sementara para pekerja remote yang sedang bertarung dengan kerjaan masing-masing.

Pemandangannya lengkap. Ada yang baru duduk langsung buka laptop dengan wajah serius seperti mau menyelesaikan proyek negara. Ada yang sejak awal sudah sibuk meeting online dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa hidup memang tidak pernah benar-benar tenang. Ada juga yang kelihatan santai di luar, padahal isi tab browser-nya mungkin sudah belasan.

Meeting online di Royal Lounge
Fokus kerja bareng

Suasananya seru karena semua sibuk, tapi sibuknya bareng-bareng.

Gaya Fokus Tiap Orang Memang Tidak Bisa Disamakan

Kalau diperhatikan, tiap peserta punya gaya kerja masing-masing yang sangat khas.

Ada tipe yang langsung cari tempat paling pojok, duduk tenang, lalu menghilang secara mental dari dunia sekitar. Tipe ini biasanya datang untuk bekerja, bukan untuk basa-basi. Kalau diajak ngobrol terlalu cepat, auranya bisa bilang, "nanti ya, lagi ngejar deadline."

Ada juga tipe yang pilih duduk dekat teman-teman. Bukan karena tidak bisa fokus, tapi justru karena semangat kerja muncul kalau lihat orang lain juga lagi sibuk. Semacam transfer energi produktif. Kalau orang sebelah ngetik cepat, rasanya jadi tidak enak kalau malah buka media sosial terus.

Belum lagi pemandangan laptop yang berjejer di meja. Ada yang tampil bersih, polos, dan minimalis. Ada juga yang penuh stiker, seolah laptopnya sudah ikut tumbuh dewasa bersama pemiliknya. Semua punya cerita, semua punya perjuangan.

Dan tentu saja, kehadiran para perempuan di WFC kali ini bikin suasana makin hidup dan makin berwarna. Jadi bukan cuma deretan orang serius depan layar, tapi juga kumpulan energi yang bikin acara terasa lebih hangat.

Perempuan-perempuan Marclub di WFC

Fokus, Meeting, Ngetik, dan Sesekali Menatap Kosong

Yang paling menarik dari WFC itu sebenarnya bukan cuma kerjaannya, tapi ekspresi-ekspresi kecil yang muncul sepanjang acara.

Ada momen ketika seseorang terlihat sangat fokus, lalu lima menit kemudian menatap layar dengan tatapan kosong, seperti sedang mempertanyakan pilihan hidup yang membawanya ke revisi ketiga hari itu. Ada juga yang kelihatan mantap sejak awal, mungkin karena tugasnya sudah jelas, atau mungkin karena memang jiwanya lebih kuat dari yang lain.

Sementara itu, yang sedang meeting online tampak seperti sedang menjalani dua dunia sekaligus. Badannya di Royal Lounge, tapi pikirannya sudah dibawa klien ke mana-mana.

Setelah Kerja, Barulah Mode Sosial Aktif

Menjelang Maghrib, satu per satu laptop mulai ditutup. Suara ketikan berkurang, bahu mulai rileks, dan wajah-wajah yang tadi tegang mulai kembali manusiawi.

Nah, di sinilah sesi lain dimulai. Setelah kerja selesai, obrolan justru makin hidup. Topiknya macam-macam, dari teknologi, dunia remote, hal-hal random, sampai pembahasan yang kalau didengar sekilas terdengar seperti obrolan warung kopi kelas berat.

Obrolan santai setelah kerja

Kalau sudah ada Kak Asidik dan Kak Dzaky di lingkaran obrolan, biasanya percakapan bisa melebar ke mana saja. Dari yang awalnya ringan bisa jadi serius, dari yang awalnya serius bisa jadi ngakak. Intinya, selalu ada alasan untuk tetap duduk lebih lama sebelum benar-benar pulang.

Dokumentasi, Karena Tanpa Foto Rasanya Kurang Sah

Meski ada beberapa teman yang harus pamit lebih dulu karena agenda lain, acara tetap ditutup dengan semangat yang sama. Dan tentu saja, seperti hukum alam di banyak komunitas, sebuah kegiatan belum terasa lengkap kalau belum ada dokumentasi bersama.

Sebagian peserta yang pamit duluan

Foto bersama bukan sekadar formalitas. Itu bukti bahwa hari itu benar-benar terjadi. Bahwa pernah ada 19 orang yang datang membawa kerjaan masing-masing, lalu pulang dengan suasana hati yang sedikit lebih ringan.

Foto bareng peserta WFC di Royal Lounge

WFC kali ini sekali lagi mengingatkan kalau kerja remote tidak harus selalu sepi. Kadang yang dibutuhkan cuma tempat nyaman, teman-teman yang asyik, colokan yang aman, dan suasana yang bikin semangat kerja ikut hidup lagi.

Sampai ketemu di WFC Marclub berikutnya. Semoga deadline makin jinak, meeting tidak mendadak, dan baterai laptop selalu cukup sampai sesi foto bareng.

Lebih Banyak Cerita &
Wawasan Seputar Remote Work.